Di balik kilau empat medali perak yang dibawa pulang dari World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia, tersembunyi ribuan jam kerja keras, eksperimen tanpa lelah, dan keteguhan hati para siswa SMA Negeri 1 Banda Aceh. Berawal dari rasa ingin tahu yang membumbung tinggi, para peneliti muda ini menatap kekayaan tanah kelahirannya bukan sekadar sebagai bahan alam biasa, melainkan sebagai jawaban atas tantangan dunia.

Perjuangan itu dimulai dari ide diskusi kecil di laboratorium sekolah. Tim pertama, yang digawangi oleh Aura Putri Shafiqa, Indanya Putri Rwina, Aqila Mazaya, Restu Indah Sari, Quinsha Shafira Azka, dan Rizkiya Ramadhani Purba di bawah bimbingan Mela Melati, S.Pd., menghabiskan waktu berhari-hari meneliti minyak atsiri pala dan nilam khas Aceh. Dari formula yang berulang kali diuji, lahirlah Miripocalm, stik balm penenang dan pereda nyeri yang memadukan aroma terapi lokal dengan kepraktisan modern.

Tak jauh dari situ, aroma khas kuliner tradisional diolah kembali oleh tim kedua. Kazia Zinnira, Natahania Putri Diwansyah, Shaiva Zovira, Khansa Luqyana, Dinda Novis Ariska, dan Cut Kayla Quin, didampingi Linda, M.Pd., bergulat dengan adonan sagu beureune. Mereka bertekad menaikkan kelas kuliner lokal menjadi Beureune Bar, kudapan sehat kaya prebiotik inulin untuk menjaga pencernaan yang berhasil menarik perhatian pasar internasional.

Dedikasi serupa ditunjukkan tim ketiga yang memanfaatkan limbah tak terpakai. T. Ghaisan Al Sabiyan, Sulthan Hammam Ashshakiya, Jasmine Shahnaz, Haruko Elysia, Fatih Asyrof Nain, dan Mochammad Sakha Harahap bersama pembimbing Lora Sandita, S.Pd., menyulap ampas kopi Aceh menjadi karbon aktif penjernih air berbasis ramah lingkungan. Sementara itu, tim empat yang terdiri dari Syariah Bian Shabila, Nisriina Izzati, Qisya Zhafirah, Raisha Putri Azhar, Rajdhatunnisa Novanda, dan Chalisha Aqifa Nayla di bawah arahan Zuyadi, S.Pd., memeras otak merangkai komponen elektronik, sensor lingkungan, dan koding Arduino Uno untuk merancang sistem pencahayaan pintar bertingkat yang efisien energi.

Pada 20–24 September 2026, perjuangan panjang itu bermuara di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia. Menginjakkan kaki di panggung kompetisi dunia yang digelar atas kolaborasi IYSA dan SEGi University, anak-anak Aceh ini berdiri tegak di antara ratusan inovator muda dari berbagai belahan benua. Rasa gugup terbayar lunas ketika mereka dengan percaya diri mempresentasikan riset berbasis kearifan lokal tersebut di hadapan dewan juri internasional.

Puncaknya, rasa haru pecah saat nama keempat tim dari SMA Negeri 1 Banda Aceh diumumkan sebagai peraih medali perak. Kepala Sekolah, Muhibbul Khibri, M.Pd., tak mampu menyembunyikan rasa bangga atas dedikasi para siswa dan guru pembimbing. Keringat dan kelelahan selama berbulan-bulan berbuah manis, membuktikan bahwa riset berbasis bahan lokal Aceh tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga diakui dan memberi dampak nyata di panggung dunia.